About_Me

My photo
BeeLGe, Kalimantan_Selatan, Indonesia
Biar'kan ku menjadi diri aku sendiri ,,,




Kemaren adalah "Kenangan",
Jadi'kan Suatu "Pelajaran" !!!!!

Hari ini adalah "Kenyataan",
Lakukan yang "Terbaik" !!!!!

Besok adalah "Tantangan",
Gapai semua "Impian" !!!!!




11.12.2008

Antara_Berpikir dan Cita-Cita

Allah SWT. menciptakan manusia dan melengkapinya dengan sejumlah kemampuan yang menakjubkan. Manusia yang berusaha mengembangkan potensi yang dimilikinya akan sampai pada tingkat tertinggi dalam segala hal. Akan tetapi jika manusia melupakan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya maka ia akan hidup dalam kelumpuhan. Tidak dapat tidak, potensi yang dimiliki manusia hanya dapat terwujud diawali dengan berpikir yang kemudian ditindak lanjuti dengan usaha.

Berpikir merupakan kegiatan yang tidak dapat lepas dari kehidupan sehari-hari. Kesuksesan seseorang tergantung dari bagaimana cara ia berpikir. Berpikir positif dapat memberikan semangat dan kreatifitas dalam kerja dan kehidupan pribadi, sebaliknya berpikir negatif melahirkan rasa malas, lemah, dan menghilangkan efektifitas pribadi. Solikhin Abu Izzudin dalam bukunya Zero to Hero (2007) mengatakan bila kita membiasakan berpikir, merenung, mengamati, maka pikiran terasa menjadi cerdas dan mendalam sehingga mengantarkan pada pemahaman yang rinci. Dari berpikir inilah kelak akan terbentuk suatu cita-cita. Selama berpikir itu tidak dipengaruhi hal lainnya yang berpengaruh terhadap kejernihan berpikir maka berpikir dapat menuntun seseorang untuk mencapai cita-citanya. Namun manakala dalam berpikir seseorang telah dipengaruhi oleh ego dan hawa nafsunya, sehingga hawa nafsunya mampu mengalahkan akal sehatnya, maka akan timbul ketidaksesuaian antara berpikir dengan cita-cita.

Dalam bukunya Gordon Dryden dan Jeannette Vos (1999) menyatakan gaya berpikir terbagi menjadi empat bagian yaitu Sekuensial Konkret, Sekuensial Abstrak, Acak Konkret dan Acak Abstrak Keempat gaya berpikir tersebut dipengaruhi oleh dua bagian otak yang terletak di sebelah kiri dan kanan. Hal ini tergantung pada objek permasalahan yang dihadapi. Sebagai contoh Pemikir Sekuensial Konkret cenderung menggunakan otak sebelah kiri lebih dominan dari sebelah kanan. Masing-masing gaya berpikir memiliki keunikan dan akan sangat efektif dengan caranya sendiri. Seseorang yang mampu memanfaatkan kedua belahan otaknya secara seimbang akan seimbang pula dalam setiap aspek kehidupannya karena otak merupakan pusat saraf manusia yang mempengaruhi segala bentuk kegiatan yang dilakukan oleh manusia termasuk di dalamnya yaitu berpikir.

Kemampuan otak yang luar biasa ini dimiliki sama rata oleh setiap manusia ketika baru pertama kali menghirup udara di bumi yang luas ini. Otak sebagai pusat proses berpikir terbentuk dari dua jenis sel glia dan neuron. Sel inilah yang berperan dalam berpikir. Glia berfungsi untuk menunjang dan melindungi neuron, sedangkan neuron membawa informasi dalam bentuk pulsa listrik yang dikenal sebagai potensial aksi. Neuron ini berkomunikasi dengan neuron yang lain dan ke seluruh tubuh dengan mengirimkan berbagai macam bahan kimia yang disebut neurotransmitter. Neurotransmitter ini dikirim melalui celah yang dikenal sebagai sinapsis.

Proses berpikir di dalam diri manusia itu dapat ditindak-lanjuti dengan suatu kegiatan konkrit, bukan hanya proses yang terjadi dalam organ otak sebagai pusat pengendali seluruh kegiatan, namun dimanifestasikan dalam kegiatan fisik keluar tubuhnya sendiri. Kegiatan fisik ini bisa berupa upaya untuk mencari atau menemukan jawaban atas pertanyaan yang muncul dalam dirinya atau untuk membuktikan kebenaran atas dugaan-dugaan yang telah dipikirkannya atau juga untuk mengumpulkan hal-hal yang dapat mendukung pemikirannya.

Dalam hal ini pendidikan memegang peranan penting dalam membentuk cara berpikir seseorang. Pemerintah terus berusaha meningkatkan mutu pendidikan dengan berbagai macam cara diantaranya dengan menetapkan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang secara langsung ataupun tidak langsung dengan terbentuknya Undang-Undang ini dapat memberikan semangat, membangkitkan etos, sebagai guide, dan sebagai fasilitas yang dapat digunakan untuk meningkatkan sumber daya manusia selaku pendidik dan peserta didik.. Selain semangat dan fasilitas dalam pendidikan, visi dan misi diperlukan agar ada optimisme dan harapan akan masa depan yang lebih baik dan pencapaian hasil yang lebih maksimal dan tepat sasaran.

Dalam bukunya Gordon Dryden dan Jeannette Vos (1999) menyatakan jika Anda punya gairah dan visi tetapi tanpa aksi maka anda melamun, jika anda punya visi dan aksi tetapi tanpa gairah maka anda akan serba tanggung, jika anda punya gairah dan aksi tetapi tanpa visi maka anda akan sampai di tempat yang salah. Dalam menentukan visi dan misi ini tentunya tidak lepas pula dari kegiatan berpikir.

Siswa sebagai peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda-beda dalam pembelajaran sehingga dalam melakukan proses belajar mengajar sebaiknya setiap siswa mendapat perlakuan yang berbeda-beda. Siswa sebagai generasi yang sedang menyusun langkah-langkah guna mewujudkan cita-citanya sangatlah perlu untuk dituntun, difasilitasi, dan diberikan motivasi agar keinginan-keinginan akan masa depannya tercapai. Siswa sebagai generasi muda yang sedang mengalami pancaroba, sedang mencari identitas diri, sedang subur-suburnya idealisme senantiasa bercita-cita dengan mengandalkan keinginan dan ego pribadinya tanpa memperdulikan akal sehatnya sehingga cita-citanya sering kali tidak sesuai dengan kondisinya. Kondisi tersebut dapat berupa kondisi fisik, intelligensi, dan financial. Idealnya cita-cita sesuai dengan ketiga hal tersebut, dengan kata lain cita-cita akan mudah dicapai jika terjadi sinergisitas ketiganya. Cita-cita merupakan sebuah proyeksi masa depan seseorang, biasanya berhubungan dengan profesi dan jabatan.

Dengan berkembangnya multiple intelligences, ilmuwan seperti gardner menyatakan bahwa kesuksesan cita-cita 20 % ditentukan oleh kecerdasan dan 80 % oleh kerja keras. Meskipun demikian penulis meyakini bahwa semakin cerdas dan semakin sesuai antara cita-cita dan kondisinya akan lebih membutuhkan energi yang lebih kecil untuk menggapainya.

Pada fase remaja bangunan cita-cita telah mengalami evolusi cita-cita yang dimulai sejak usia dini. Misalnya ketika berusia enam tahun seorang siswa bercita-cita menjadi polisi sangatlah mungkin berevolusi yang pada usia 19 tahun berubah menjadi seorang guru. Artinya pada usia ini sebetulnya bangunan cita-cita itu relatif mapan dan tidak mudah berubah karena telah melihat potensinya, baik potensi fisik, psikis, dan financial. Hal ini tentunya tidak lepas dari faktor lingkungan yang membentuk pola pikir seseorang sehingga bagi mereka yang hidup dalam pola pikir yang positif akan terus dapat mengembangkan kemampuannya sedangkan bagi mereka yang hidup dalam pola pikir yang negatif cenderung statis dalam kehidupannya. Cita-cita akan terus berevolusi dari masa ke masa sesuai dengan perkembangan fisik dan psikis seseorang.

Pendidik dalam hal ini adalah guru, diharapkan selain memberikan perhatian masalah IQ siswa juga dua hal lain yang tak kalah pentingnya yaitu EQ dan SQ. Seorang guru akan merasa puas manakala siswanya memperoleh nilai tinggi. Lebih dari itu guru harus memperhatikan kejiwaan siswa, puaskah siswa dengan hasil yang diperolehnya. Apakah yang diperoleh siswa memang sesuai dengan keinginannya atau hanya sekedar memenuhi tugas dan kewajibannya guna menghilangkan tekanan-tekanan yang diberikan baik dari pihak sekolah maupun keluarga. Dengan dibentuknya tiga ranah yang harus dicapai (kognitif, afektif, dan psikomotor) diharapkan guru mampu mengembangkan semua sisi yang dapat dikembangkan pada peserta didiknya. Guru sebagai talent scout selain harus benar-benar bisa memberikan pencerahan tentang gambaran potensi yang dimiliki siswa sehingga mempermudah siswa dalam menemukan jati diri dan menentukan langkah guna mewujudkan cita-citanya guru juga harus mampu memberikan semangat dalam diri siswa guna membentuk pikiran yang positif. Tidak bisa tidak, untuk mewujudkan itu semua seorang guru harus mengerti akan gaya berpikir dan cita-cita peserta didiknya mengingat keterkaitan keduanya sangat erat.